PENYAKIT pada NEGATIF CASH FLOW

“Pada Tabel COST diatas ada 3 faktor yang menyebabkan Posisi CASH FLOW Perusahaan NEGATIF. Yaitu: 1) TOTAL CASH IN (Total Sales Revenue) 2) CASH IN HAND 3) CASH OUT (TOTAL COST Expenses)”
Yang mempengaruhi Cash in:
1) Penjualan
2) Collection
Yang mempengaruhi Cash in Hand:
1) Stock Raw Materials
2) Work In Progress
3) Slow Moving Stock
4) Slow Moving finished goods
5) Dead Stock
Yang mempengaruhi Cash out:
1) Barang datang lebih awal
2) Penyelesaian order lebih awal, tidak langsung terjual
3) Over consumption
4) Harga beli yang lebih mahal
5) Payment term yang lebih pendek dibanding Collection
6) Investment dengan tingkat pengembalian yang rendah
SALES
Sales
atau penjualan adalah aktivitas menjual barang jadi produksi kepada
pelanggan dengan ketentuan: Menjual barang yang berkualitas dan tepat
waktu sesuai dengan kebutuhan pelanggan dan memastikan terjadinya PEMBAYARAN tepat WAKTU dan Pencapaian Keuntungan lebih besar dari target bagi perusahaan.
Tahukan
Anda bahwa dari hasil study untuk setiap penurunan harga (discount) 5%
s/d 10% hanya akan terkompensasi bila penjualan meningkat 30%? Artinya,
bila salesman menjual harga dengan discount 10% untuk menghasilkan
Revenue dan Nilai keuntungan yang sama, maka artinya Sales harus mampu
menjual 30% volume lebih tinggi.
- Bagian Produksi harus memproduksi lebih sebesar 30%.
- Meningkatnya
biaya Inventory, Biaya Transportasi, Biaya Bunga dan biaya-biaya lain
terkait.. (Hati2 dengan kapasitas dan kemungkinan adanya investasi
tambahan???)
INVENTORY
Inventory
tidak sekedar Raw Materials. Tetapi juga termasuk: WIP, Finished Goods
Stock (FGS), baik yang slow moving maupun yang Dead Stock.
Hal-hal
kecil yang sering sepelekan adalah pengembalian materials dari produksi
yang tidak semestinya, seharusnya dipallet dan dipacking tidak
dilakukan, alhasil barang tersebut rusak.
Packing yang seadanya sehingga barang tumbang atau terjatuh dan rusak.
Peletakan yang tidak sesuai sehingga barang tertabrak dan rusak.
Barang
tidak di-identifikasikan dengan benar sehingga pada saat diperlukan
tidak ditemukan dan akhirnya harus membeli unit baru.
Penghitungan WIP yang tidak akurat dan berakibat pada over production.
Memproduksi barang tanpa perintah yang jelas dan sesuai dengan permintaan order.
Toleransi yang berlebihan.
Penumpukan barang bermasalah yang tidak segera diselesaikan, sehingga menyebabkan kerusakan dan dead stock
Proses
produksi yang tidak terkontrol dan mudah untuk mengeluarkan perintah
re-work atau re-make. Hal ini menyebabkan inventory bertambah disebabkan
oleh aturan minimum order quantity.
Kebijakan pembelian asal Murah tanpa mempertimbangkan munculnya biaya atas qualitas dan produktivitas.
Permintaan barang yang tidak terencana dengan baik sehingga menimbulkan kepanikan dan biaya tinggi.
Permintaan
yang lebih awal sehingga berdampak pada pembayaran yang lebih awal
pula, namun barang yang dihasilkan tidak segera menghasilkan Cash.
Permintaan yang tidak jelas, sehingga ketika barang datang, barang tersebut tidak bisa dipergunakan
MANUFACTURING
Memproduksi barang adalah selalu berdasar pada prinsip MUTU dan kepatuhan terhadap perintah pengerjaan.
Sering
kali karena sikap kerja yang kurang profesional mengampangkan cara;
Order verbal yang belum jelas karena hubungan pertemanan maka order
diproses. Namun begitu barang tersebut siap dikirim order dari pelanggan
belum juga datang atau mungkin cancel karena berganti model.
- Lingkungan
kerja yang acak-acakan dan tidak tertata menyebabkan proses produksi
memiliki alur yang tidak teratur, waktu handling yang lama, biaya
kerusakan tinggi, barang WIP yang tidak teridentifikasi, banyaknya dead
stock di working station, kotor dan bahkan bercampurnya material atau
produk bagus dan reject.
Bekerja
cepat dan potong kompas dengan mengedepankan ’PERSEPSI sama dengan
KEMARIN’, pada hal setiap order memiliki keunikan dan ada kemungkinan
berganti specifiaction. Akhirnya produk tersebut tidak dapat dijual.
Produktivitas yang tidak sesuai dengan design awal. Sehingga mengakibatkan ROI tidak tercapai.
Pembelian
peralatan kerja hanya berdasar pada batasan tertentu, namun tidak
melihat kebutuhan jangka panjang. Hasilnya adalah double investment
untuk menutup kekurangan 50% dari kebutuhan pada renana penjualan tahun
depan.
Design yang tidak mempertimbangkan kemampuan produksi dan ketersediaannya stock bagi produksi masal
Design hanya bekerja atas prinsip kesempurnaan namun kurang cermat dalam membaca ’apa yang sebenarnya diinginkan pelanggan?’
BUDAYA
BACA dan BACA lagi untuk Instruksi kerja, Specifikasi MUTU dan Setting
Parameter yang digampangkan atau disepelekan. RIGHT FIRST TIME!!!
Bagaiman sikap Anda bila Anda menjadi pemimpin sekaligus Pemilik perusahaan ini?
Akankah Anda memberikan toleransi bagai NEGATIVE CASH FLOW?
Bila jawabannya tidak, maka Anda termasuk orang yang mengerti dan menemukan jawaban... ”Mengapa Atasan Anda cukup CEREWET dalam 2 bulan terakhir ini....?”
0 komentar:
Posting Komentar