BAGIAN KETIGA: MENAMBAH NILAI UNTUK ORGANISASI dengan MENGEMBANGKAN ORANG-ORANG DAN MITRA KERJA
Prinsip 9: Kembangkan Pemimpin yang Benar-benar Memahami Pekerjaan, Menjiwai Filosofi dan Mengajarkan kepada Orang Lain
Hingga manajemen senior mampu menyingkirkan ego mereka dan melebur ke dalam tim dan memimpin mereka semua.
Di
TOYOTA kami menempatkan nilai tertinggi pada anggota-anggota tim kami
dan melakukan yang terbaik untuk mendengar mereka dan menyatukan ide-ide
mereka ke proses perencanaan kami.
(Alex Warren, Senior VP, TOYOTA Motor Manufacturing - Kentucky)
Kembangkan pemimpin dari dalam organisasi dan bukan membeli mereka dari luar organisasi.
Jangan
memandang pekerjaan seorang pemimpin hanya sekedar menyelesaikan tugas
dan memiliki ketrampilan mengelola orang. Pemimpin harus menjadi panutan
dalam filosofi perusahaan dan cara melakukan bisnis.
Seorang
pemimpin yang baik harus memahami pekerjaan sehari-hari secara detil
sehingga dia dapat menjadi guru terbaik untuk filosofi perusahaan Anda.
Sering
kali perusahaan sebagai organisasi lupa, bahwa suksesi dan pengembangan
ketrampilan jangka panjang adalah sangat penting bagi kekuatan sebuah
organisasi, apalagi untuk proses yang unik.
Contohnya
adalah pada bagian Penerimaan Karyawan (Recruiting Department), mereka
mengunakan metoda seleksi dan bahkan mau membayar lebih bagi para
Head-hunter. Ini
adalah perekrutan cara tradisional. Ada cara lain dari pada mencari
atau seleksi trasional, yaitu dengan metoda MENJARING. Menjaring artinya
akan mendapatkan lebih banyak calon, dibutuhkan atau tidak bagian
Recruitment harus menyediakan Talent Stock yang handal, karena jumlah
kandidat yang ada dalam data stock tidak-lah terbatas.
Best
practices pada problem solving di dalam proses manufacturing sering
tidak didokumentasikan menjadi buku ‘Trouble-shooting’. Dan terlebih
lagi, best pratices itu terlewatkan begitu saja dan dilupakan. Padahal
itulah awal mula terbentuknya ketrampilan dalam bekerja.
Contoh pada proses Jacketing:
Catatlah
setiap problem solving atau improvement prosess ke dalam OPL (One Point
Lesson) atau ke dalam catatan Problem Solving yang dilengkapi
penjelasan singkat dan visualisasi yang jelas.
Lakukan proses pelatihan.
Pastikan belum pelatihan diakhiri, mintalah operator untuk mempraktekan dan memperagakan apa yang telah dimengertinya
Sekali lagi pastikan bahwa operator mampu melakukan tugasnya dengan benar
Dapatkan tanda tanggan sebagai pengesahan bahwa pelatihan terjadi dua arah dan dimengerti dengan benar
Kemudian simpanlah catatan itu sebagai catatan pelatihan, pembelajaran, catatan best practice dan bimbingan problem solving.
Tempatkan pada Visual Board display OPL & Trouble Shooting Guidance

Dibanyak
perusahaan Jobs Description dan Intruksi Kerja (Work Instruction),
bentuknya naratif dan lebih parah lagi adalah ke dua form tersebut
diketik dan diterbitkan hanya untuk keperluan Audit Quality. Pernahkah terpikirkan, bahwa dari sini-lah awal Qualitas itu ada. Pertanyaannya mengapa ke dua form tidak masuk dalam daftar pelatihan? Dibuat visual, singkat dan mudah?
“Kata-kata adalah gambar dalam pikiran kita” (John Dryden, Seniman Inggris)
“Tujuan
dari semua pekerjaan adalah produksi atau pencapaian dan untuk
mencapainya harus ada pemikiran yang matang, sistem, perencanaan,
kepandaian serta niatan yang jujur, juga peluh (usaha)” (Thomas A. Edison)
Pastikan ini dilakukan dengan focus dan bersungguh-sungguh, kemudian lihat hasilnya…
Pernahkah terbesit kekuatan dari prinsip Multi Level? Bagaimana bila itu terjadi pada gugus kerja improvement Anda?
Bila
satu minggu ada 1 kejadian, berarti ada 52 ilmu yang selalu dapat
dibaca dan dimungkinkan hilangnya masalah sama berulang terjadi???
Dazyat bukan...?
Apakah artinya mengembangkan kesamping dan kebawah pada ‘BEST PRACTICES’ untuk mempercepat pertumbuhan perbaikan ditempat kerja?
TWI
(Training Within Industry) adalah metoda pelatihan yang diterapkan di
perusahaan terkemuka di Jepang. Prinsipnya adalah “Tidak ada yang baru
dibawah langit, semuanya dapat dipelajari dengan pelatihan yang
efektif”.
TWI terbagi dalam 4 modul:
1. Instruksi Kerja,
Apakah pekerja tahu apa yang dikerjakannya dan cara bekerja yang benar?
Modul ini dirancang untuk membantu para Supervisor dalam melatih pekerja baru yang belum memiliki keahlian.
2. Metoda Kerja,
Apakah pekerja tahu metoda kerja seperti apa yang seharusnya dilakukan? Mengapa?
Teknik
bekerja yang benar akan membantu Supervisor dalam menjalankan tugas
hariannya. Supervisor dan pekerja bersama-sama menganalisa semua aspek
pekerjaan sesuai metode untuk menghilangkan pemborosan dan meningkatkan
hasil kerja.
3. Hubungan Kerja,
Untuk
mencapai sukses ditempat kerja, dengan siapa dan bagaimana harus
dikerjakan? Sering kali Supervisor dan pekerja terlibat konflik dan
berujung pada menurunnya produktivitas. Pekerja tidak tahu kepada siapa
harus bertanya dan mendapatkan jawaban yang tepat. Supervisor harus
memiliki kemampuan membangun hubungan kerja yang harmonis dan kepatuhan
untuk menghasilkan mutu dan produk.
4. Pengembangan Program,
Kemampuan lebih lanjut bagi pekerja untuk mengembangkan ketrampilan dan hasil kerja menjadi lebih fantastis.
INTRUKSI KERJA adalah landasan untuk mengembangkan bakat. Hal
ini sulit untuk dimengerti dan disadari. Kemudian, Mengapa mempersulit
pekerja untuk menghasilkan produktivitas yang artinya prestasi? Bila
bentuk Intruksi kerja yang naratif, sulit dimengerti, diberikan tanpa
pelatihan... artinya hanya pemborosan. Karena intruksi kerja yang ada
tidak membimbing pekerja untuk berprestasi.
Apalagi
bila kenyataannya untuk menyelesaikan satu masalah saja, mesti harus
menunggu seseorang. Bagaimana kalau seseorang itu berhalangan? Bisakah digantikan dengan selembar kertas yang bernama “OPL atau Instruksi Kerja atau Panduan Trouble Shooting?”
Contoh:
Pekerjaan sepenuhnya: Key-in Data OEE ke dalam format computer
Langkah 1: Mengumpulkan data dari meja kerja operator
Langkah 2: Membuka file OEE-Master Line A.XLS
Langkah 3: ...
Langkah 1.1: Mengumpulkan data setiap pukul 09:00
Langkah 1.2: Memeriksa catatan kelengkapan data
Langkah 1.3: Melakukan verifikasi dengan operator
Langkah 1.4:…
Langkah 1.1a: Memastikan data ada ditempatnya
Langkah 1.1b: Memastikan data dapat diambil tepat waktu
“Bila
hal-hal diatas dilakukan dengan benar, hasilnya apakah akan lebih mudah
bagi pekerja dibagian tersebut untuk menghasilkan hasil kerja yang
bermutu dan akurat?”
Coba tanyakan kepada diri Anda:
- Sebelum menjabat pekerjaan saat ini, anda sebagai apa?
- Pernahkah anda menjadi pekerja pada lini bawah? Kapan?
- Kemudahan apa sebagai pekerja yang ingin anda dapatkan untuk dapat melakukan pekerjaan dengan baik dan benar?
Temukan
jawaban tersebut, maka bila Anda menjadikan pekerja sebagai sahabat
sukses Anda artinya Anda telah menciptakan pemimpin baru dimasa
mendatang. Seperti halnya Anda ketika itu.
0 komentar:
Posting Komentar