TPM #37: PILAR ke 6, Quality Maintenance System ‘Hinshitsu Hozen’
TPM #37: PILAR ke 6, Quality Maintenance System ‘Hinshitsu Hozen’
Bagian 1: Apa yang dimaksudkan dengan Quality Maintenance System?
Seperti
yang sudah kita pelajari bersama, bahwa Quality adalah salah satu
indikator dari produktivitas. Dalam OEE dirumuskan bahwa: Availability
Rate x Productivity Rate x Quality Rate.
Quality yang dimaksudkan adalah quality yang menjamin bahwa:
Alat/mesin kerja benar-benar siap untuk menghasilkan produk yang berkualitas (sesuai dengan yang diinginkan pelanggan),
Quality yang stabil & konsisten
Biaya yang ekonomis sehingga mampu bersaing dan menang dalam kompetisi
Keefektifan kegiatan Quality Maintenance System dapat diukur:
- Meningkatnya nilai OEE
- Hilangnya
Downtime (~ mendekati NOL, Zero breakdown), Menurunnya MTTR, Makin lama
mesin itu rusak kembali atau nilai MTBF ~ lebih lama (panjang)
- Kepatuhan dalam pelaksanaan Autonomous Maintenance
- Turunnya biaya Maintenance
- Turunnya
reject dibarengi dengan semakin banyaknya tindakan pencegahan dibanding
dengan corrective, parameternya adalah implementasi OPL dan POKA YOKE
- Hidup dalam kerja sama kelompok yang kuat, ditunjukan dengan lebih banyaknya ‘cross function project’
Sepuluh Tahap dalam penerapan Quality Maintenance System:
Tahap #1: Quality Assurance Matrix (QA Matrix)
- QA Matrix adalah alat untuk menentukan prioritas tindakan atas penyebab utama kerusakan mutu pada tahapan proses manufacturing.
- Fokus pada kegiatan proses kerja dan prioritas tindakan
- Bekerja secara konstruktif untuk menanggulangi masalah mutu
Tahap #2: Menyiapkan Tabel Analisa kondisi Input Production
- Memeriksa tahapan input yang menyebabakan ketidak-produktivitasan produksi untuk setiap tahapan sub proses kerja
- Memeriksa apakah tahapan prosedur kerja telah dilakukan dengan benar (disiplin & dipatuhi)
Tahap #3: Menyiapkan Problem Chart
- Melakukan Analisa produksi pada kondisi input untuk permasalah pada setiap tahapan proses
- Mendahulukan
tindakan untuk mencegah masalah (bisa jadi pengulangan masalah) dititik
masalah. Melakukan tindakan dengan cara berhati-hati dalam mengatasi
masalah-masalah sulit yang mungkin tidak dapat ditangani dengan mudah
atau segera.
- Membagi atas tingkatan masalah, melakukan tindakan investigasi dan rencana tindakan pencegahan.
Tahap #4: Mengevaluasi keseriusan masalah dengan FMEA dan menindaklanjuti dengan FMCEA
- Tindakan improvement pada mesin/alat kerja
- Memprioritaskan masalah dengan mempertimbangkan dampak mutu (quality defect mode)
- Memutuskan berdasar penilaian pada skala masalah yang terjadi
Tahap #5: Mengunakan Preventive Maintenance untuk menganalisa dan merunut akar permasalah
- Untuk masalah yang serius, pelajari fenomena yang terjadi
- Investigasi masalah yang terjadi dengan mempelajari tindakan preventive maintenance yang telah dilakukan
- Ujilah apakah tindakan yang dilakukan adalah efektif? Rencanakan perbaikan.
Tahap #6: Mengevaluasi keefektifan implementasi tindakan FMEA dengan FMCEA
- Setelah melakukan FMEA dan melakukan perbaikan atas rekomendasi, perhatikan ke-efektifan hasil
- Lanjutkan dengan teknik FMCEA
- Amati dan evaluasi hasil perbaikan
Tahap #7: Continues Improvement
- Tindakan perbaikan yang terus menerus didokumentasikan
- Bakukan pencapaian yang terjadi
- Bandingkan ‘After dan Before’ improvement action
- Lakukan pelatihan untuk meningkatkan skill dan kompetensi pekerja dan para supervisor
Tahap #8: Me-review kondisi input dan hasil produksi
- Ini adalah tahap ke-dua dalam mengevaluasi (sekaligus mereview) performa hasil kerja mutu atas input dan produksi
- Apakah input telah benar-benar terkendali penuh ~ variasi yang terjadi dalam batas kontrol
- Hasil produksi telah diketahui pasti (terprediksi) akan menghasilkan produk dalam kendali mutu
Tahap #9: Mengkonsolidasikan dan mengkonfirmasi hasil pengecekan
- Mengunakan rekomendasi dan hasil kerja tahap #8 untuk aktivitas kendali mutu
- Buatlah Quality Check Matrix
Tahap #10: Menyiapkan sebuah komponen mutu ‘Tabel Control’ dan Jaminan atas Mutu melalui tahapan kondisi kontrol yang ketat
- Standard kerja dan proses harus terukur, terbaca, jelas dipahami dan mampu telusur
- Seluruh kegiatan dituangkan dalam catatan mutu kerja
- Data
yang ada harus dapat dibaca dan menunjukan kejadian yang sebenarnya,
sehingga dapat dilakukan observasi dan memudahkan tindakan improvement
berikutnya (~ mencapai kesempurnaan proses atas mutu)
0 komentar:
Posting Komentar