
Cara untuk melakukan PEMBERSIHAN AWAL (Initial Cleaning):
Ambilah
gambar sebelum dibersihkan (nantinya dibandingkan dan dokumentasikan
dengan setelah pengerjaan) = Photo before & after
Tags
Cleaning & Inspection (TC&I)= Label merah bertuliskan “CLEANING
& INSPECTION”, Lokasi, tanggal temuan, jenis temuan (kotoran,
rembesan, ceceran, debu…), Penanggung jawab, Penemu, Tindakan
pembersihan dan Tanggal pencabutan (verifikasi)
Pembersihan awal pada mesin, dan menempelkan Label “TC&I” pada area atau bagian yang dibersihkan
Mencatat Tags Identifikasi dan menginventarisir untuk dilakukan tindakan dan monitoring
Melanjutkan tindakan awal pembersihan untuk segera menyelesaikan issue Tags Cleaning
Menganalisa masalah sesuai temuan Tags “TC&I”
Membuat
table PARETO dan segera melakukan tindakan perbaikan dan pecegahan.
Prioritas penghapusan masalah, perlukan mengubah tutup/cover atau
dudukan mesinnya? Sehingga mudah aktivitas pembersihan?
Pembakuan proses pembersihan, pelumasan dan aktivitas kerja yang dilakukan sebagai STANDARD Awal.
Rekamlah aktivitas tersebut dalam OPL sebagai standard awal dan untuk pelatihan berikutnya.
TAG Identifikasi dalam TPM adalah meliputi:
Hal-hal yang tidak mudah dan belum dipahami
Aktivitas dan pekerjaan yang tidak memberikan nilai tambah (pemborosan)
Hal-hal yang dapat disederhanakan (menghilangkan kesulitan, menciptakan kemudahan)
Segala-sesuatu yang menyebabkan mesin tidak bekerja sempurna
Hal-hal yang menutupi pembacaan dan pengelihatan (debu, kabut, kotoran...)
Sesuatu yang kendor atau aus dan rusak
Retakan, kebocoran, rembesan, debu, kotoran dan bau
Percikan api, bunyi nyaring berisik, bau tebakar
Rankaian kabel yang tidak rapih
Barang yang tidak terpakai, rusak dan tidak bertuan
STEP #2: Menghilangkan Sumber Kotoran, bagian yang sulit dibersihkan dan area inspeksi
1. Berdasar Analisa Pareto pada STEP #1:
ü Mengapa aktivitas pembersihan perlu dilakukan?
ü Adakah pembersihan yang membandel (sulit dibersihkan)? Dibagian mana? Apa jenis kotoran tersebut?
ü Kesulitan pembersihan karena jenis kotoran atau karena pembersihan dilakukan diarea yang sulit?
ü Bagaimana tingkat kebersihan yang diharapkan?
ü Bagaimana cara melakukan pengukurannya?
ü Berapa frekuensi pembersihannya?
ü Bagaimana
dengan alat kerja atau mesin pada bagian penutup, pengantian oli,
greasing? Apakah mudah untuk dibersihkan dan diperiksa? Perlukah
dilakukan modifikasi?
2. Rumuskan
solusi dari keadaan No. 1 (Rumuskan untuk ketetapan sementara hingga
nantinya menjadi ketetapan baku karena tepatnya penerapan solusi dan
cara) dan tuangkan dalam OPL untuk tindak lanjut pelatihan.
3. Lakukan kegiatan pembersihan dan pemeriksaan sesuai dengan jadwal yang ditentukan
4. Laporkanlah
sesuai dengan Check-list yang tersedia, buatlah catatan khusus bila ada
temuan baru, dan bila perlu lanjutkan dengan melaporkan kepada
Supervisor.
5. Evaluasi keefektifan pelaksanaan TC&I, dengan memonitor Open & Close status.
STEP #3: Melakukan pembersihan, mencegah kotoran kembali, inspeksi dan menyetandarkan pelumasan
1. Buatlah Cleaning & Inspection standard format:
ü Alat dan mesin apa yang harus dibersihkan?
ü Bagian yang mana yang harus diperhatikan?
ü Bagaimana cara membersihkannya?
ü Alat apa saja yang dipakai?
ü Siapa petugas yang bertanggung jawab? Apa rincian pekerjaanya?
ü Bila ada penyimpangan harus bagaimana dan melapor pada siapa?
ü Apa yang harus dilakukan pada saat membersihkan dan memeriksa?
ü Form mana yang akan dipakai? Akan ditanda-tangani atau dilaporkan kepada siapa form ini? Disimpan dimana form ini?
ü Apa hasil keluaran dan pengukuran efektivitas kerja dan pelaporan ini?
2. Buatlah
penyederhanaan pelumas. Yang utama adalah manfaat dan fungsinya.
Selanjutnya tentukan Satu atau Dua merk dagang dan menyedikitkan type
pelumas. Pada umumnya pelumas dibedakan pada 2 jenis yaitu Umum dan
Penggunaan khusus. Hal ini akan memudahkan dalam memanajemeni stock dan
pengontrolan dalam pemakaian.
3. Buatlah system penandaan visual pada aplikasi Pelumasan. Pada tempat pelumasan dan juga jenis pelumasannya.
4. Buatlah
jadwal pelumasan dengan baik, mudah dibaca, dimengerti dan ditampilkan
menarik secara visual sehingga dapat dipatuhi dengan benar.
5. Berikan pelatihan kepada Operator tentang Pelumasan, manfaat dan teknologinya.
6. Monitor check list dan efektivitas tindakan pemeriksaan dengan mengukur downtime, breakdown yang terjadi dan mutu produk.
STEP #4: Aktivitas Pemeriksaan Umum pada Mesin dan Alat kerja
1. Dengan bimbingan dari Maintenance Manager, pelatihan tentang kerja mesin dan titik kritisnya diberikan kepada para Operator.
2. Operator
belajar dan praktek tentang apa yang dipelajarinya, hal ini akan
mendorong kepada bertambahnya pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan
dalam bekerja yang lebih baik.
3. Operator
belajar dengan bimbingan teknis tentang problem solving dan trouble
shooting untuk mengatasi kendala saat cleaning, inspeksi dan mengoperasi
alat kerja. Sehingga pada akhirnya Operator mampu menjaga mesin dalam
kondisi prima dan siap memproduksi barang yang berkualitas dan efisien.
4. Menciptakan
lingkungan kerja yang transparent, visual dan representative. Ajarkan
kepada operator untuk dapat menjelaskan bagan-bagan visual tersebut.
Kemampuan dalam mempresentasikan akan mendorong tumbuhnya pengertian dan
pengetahuan tentang tempat kerjanya.
5. Membakukan apa itu pemeriksaan? Bagaimana melakukannya? Apa standardnya? Dan apa hasilnya?
6. Melaporkan
hasil pemeriksaan mesin dan alat kerja, mencatat temuan, melaporkan
hal-hal kritis dan sanggup menterjemahkan masalah menjadi peluang bagi
perbaikan produktivitas kerja.
Lakukan
pelatihan bagi pekerja pada dasar-dasar operasi alat kerja, buatlah
OPL, WI & Trouble Shooting yang sederhana, bergambar, mudah dibaca
dan libatkan Operator dalam pembuatannya.
ü Sistem Hydrolic sederhana
ü Tekanan angin dan pemipaan sederhana
ü Sistem Pnuematic sederhana
ü Electric/electrical pada rangkaian sederhana
ü Jenis Lubrikasi yang dipakai, peruntukan, umur pemakaian, jumlah dan maanfaat
ü Sistem putaran, motor dan sirkuit kerja alat secara sederhana
ü Hal-hal kritis pada mutu produk dan keamanan alat kerja
ü Keamanan bekerja dengan alat/mesin kerja
STEP #5: Pemeriksaan Mandiri (Autonomous Inspection)
1. Bandingkan pelaksanaan kerja pembersihan dan pemeriksaan dengan pedoman standard baku.
2. Carilah
tahu mengapa terjadi penyimpangan? Perlukan pedoman itu diubah atau
pekerjaannya? Dapatkah disederhanakan pelaksanaannya?
3. Buatlah perbaikan pedoman pelaksanaan yang lebih mudah dan sederhana dengan hasil yang efektif sesuai sasaran.
4. Buatlah satu system yang teringrasi untuk pelaksanaan Pembersihan dan Pemeriksaan. Bakukan menjadi format Pemeriksaan Mandiri.
5. Implementasikan visual factory management pada seluruh aktivitas “Cleaning & Inspection”.
6. Lakukan meeting dua mingguan (diawali dengan meeting mingguan) untuk selalu mengevaluasi efektivitas kerja terhadap hasil.
Audit
dan pemeriksaan rutin terhadap alat/mesin kerja dan pelaksanaan
Autonomous Maintenance adalah perlu dan penting. Penyimpangan adalah
untuk dipelajari dan dicarikan jalan pemecahan, bagaimana agar menjadi
sempurna dan kekal.
Lakukan
management review meeting setidaknya setiap 6 bulan sekali pada apa
yang telah dikerjakan dan hasilnya. Pencapaian ini akan memotivasi bagi
tercapainya tempat kerja yang handal dan sempurna.
STEP #6: Pembakuan aktivitas Pembersihan, Inspeksi dan dokumentasi.
Sering
kali pekerjaan Membersihkan dan Memeriksa menjadi tidak mudah dan
membuat frustasi. Bila alat, perlengkapan dan kecepatan dalam mengambil
keputusan bagi suatu masalah menjadi kendala.
Maka
lengkapilah dengan kemudahan bagi pada operator untuk dapat melakukan
pekerjaan utamannya dan pekerjaan dalam memelihara alat dan mesin kerja.
Tidak cuma produk yang berkualitas tetapi juga mesin yang handal dan
tempat kerja yang bersih/nyaman.
1. Lakukan penyempurnaan aktivitas dan system yang berlaku. Perbaharui.
2. Implemetasikan 6S (Sort, Set in Order, Shine, Safety, Standardize, Sustain) dalam kehidupan bekerja.
3. Pelajari
kondisi yang ada, petakan dan identifikasi pemborosan ditempat kerja
yang berhubungan dengan implementasi Autonomous Maintenance (OEE).
4. Hilangkan
penyimpangan (ketidak sempurnaan) mesin dan alat kerja dalam mendukung
proses produksi dengan menggunakan alat-alat problem solving (7 tools of
Quality = SPC, Brainstorming..)
5. Bentuklah
gugus kerja untuk mengevaluasi dan menilai ke efektivitasan
implementasi Autonomous Maintenance dengan target kerja yang
dicanangkan. Adakan meeting review secara periodik.
STEP #7: Membangun Tim Kerja dan Autonomous Management dengan Continues Improvement untuk mencapai “ZERO ABCDE”:
Tujuan
utama dari Autonomous Maintenance adalah: ZERO Accidance (Safety,
keselamatan dan keamanan kerja), ZERO Breakdown, ZERO Chronic
(kerusakan, keausan, kemunduran), ZERO Defect Quality & Equipment,
ZERO Environment Issue (Polusi lingkungan).
Untuk mencapai tujuan diatas, perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. System format pelaporan yang sederhana dan mampu memotivasi bagi terciptanya produktivitas kerja.
2. Adanya monitoring harian atas hasil kerja pelaksanaan Autonomous Maintenance
3. Mengevaluasi pencapaian mutu, produktivitas, biaya dan pemborosan
4. Visual monitoring board yang mudah diakses oleh semua perkerja sehingga menumbuhkan motivasi pencapaian sasaran yang dicanangkan
5. Terapkan pendekatan problem solving bagi masalah yang muncul, selesaikan dan cegah.
6. Diskusikan pencapaian dan penyimpangan dalam bahasan meeting pagi (harian)
0 komentar:
Posting Komentar