TPM #42: Pillar 6, Quality System untuk Zero Defect
TPM #42: PILAR ke 6, Quality Maintenance System ‘Hinshitsu Hozen’
Bagian 6: Quality System untuk Zero Defect
Untuk
mencapai kondisi Zero Defect maka quality system memerlukan dukungan
dan landasan system kerja. Adanya kegagalan system dalam mendeteksi
suatu proses yang berak cepat dan dinamis dalam menghilangkan masalah
(quality problem). Quality system management tersebut harus dikendarai
dengan kesungguhan dan kekuatan, sehingga pemborosan dapat dihilangkan
dan pada akhirnya perusahaan dapat menghemat dan mendapatkan keuntungan
mutu dengan hilangnya pemborosan.
Sering
kali budaya mutu yang ada dibanyak perusahaan hanya didasarkan atas
sertifikasi mutu pada quality management system (process & product).
Prosedur yang dibuatpun seadanya dan
cenderung sebagai panduan atas kegiatan pemadaman api masalah (fire
fighting). Munculnya masalah berulang adalah ciri bahwa quality
management system yang ada belum maksimal dalam mencegah dan mengoreksi
permasalahan yang muncul pada proses kerja. Bila lebih diperhatikan
lagi, banyak hal yang tidak terencana dan kejutan muncul, contohnya:
mesin rusak tiba-tiba, susulan order, adanya kegiatan yang melibatakan
karyawan tanpa koordinasi terlebih dahulu, dsb.
Quality
Management System sudah seharusnya mengantarkan kita kepada process
system untuk menghilangkan pemborosan dan sekaligus permasalahan mutu
produk.
1. Mengidentifikasikan, menurunkan dan mengukur (menghitung) dari biaya atas kerusakan mutu
2. Mengembangkan kemampuan dan pengetahuan ‘Know-How’ dalam kegiatan menghapuskan permasalahan atas mutu.
3. Berubahnya
pemahaman dari Quality Control Produksi menjadi Process Control,
kemudian menciptakan kondisi management system kerja yang efisien untuk
mempertahankan keuntungan dan saving bagi perusahaan.
Yang dimaksudkan dalam Biaya Pemborosan/kerusakan atas Mutu (Off Quality Cost) adalah:
1. Internal Quality
- Process Scrap
- Quality loss
- Material yield
- Over-usage
- Waste & scrap removal
- Rework
- Downgrading to lower quality level
- Obsolete products dan over production
- Produk tidak terjual
2. Inspection
- Testing (pengetesan, uji laboratory)
- Sample
- Control operator
- Alat measurement system
- Statistical Process Control pada proses dan hasil produksi
3. Prevention
- Standardization dan specification
- Poka Yoke
- Inspection operator
- Statistical Process Control pada proses dan hasil produksi
- Quality system, implementasi dan audit
- Training
4. External Quality
- Complains
- Claim
- Product return
- Replacement
- Black list supplier
Perubahan pemahaman Quality pada Quality Control menjadi Process Control dapat diilustrasikan sbb:
QUALITY CONTROL adalah Mencicipi sedikit pada setiap Kue Donat yang dibuat.
STATISTICAL PROCESS CONTROL adalah mencicipi satu kue donat setiap Nampan (Kotak).
PROCESS PARAMETER MANAGEMENT adalah mengatur dan memastikan Suhu, Waktu, Pemeriksaan adalah benar sesuai petujuk cara memasak.
KONDISI IMPROVEMENT MANAGEMENT
adalah mengejakan pekerjaan dasar (basic activities) pada alat masak,
alat ukur (timbangan, timer dan suhu), meja hidangan dan alat
kebersihan. Diharapkan bahwa alat masak akan bekerja dengan benar, meja
hidangan besih dan alat kebersihan benar-benar menghilangkan kontaminan,
sehingga pengunjung senang dan membeli produk yang dihasilkan.
0 komentar:
Posting Komentar