“Memahami POHON & BUAH Best Practices ”
“Pemborosan terbesar adalah pada pemborosan yang tidak terlihat oleh mata” (Taiichi Ohno)
Adalah
sebuah perjalanan proses. Dari biji menjadi tunas, dari tunas menjadi
batang pohon, berdaun berbunga dan kemudian berbuah. Semua itu adalah
proses. Ada yang membuat proses itu dipersingkat, yaitu dengan sistem
cangkok, kawin silang, namun lagi-lagi ada proses berdaun, berbungga dan
kemudian berbuah. Semua itu adalah proses.
Hal yang benar dalam organisasi adalah bangunlah PONDASI yang KOKOH, kemudian buatlah TANGGA PIJAKAN
sehingga seluruh komponen organisasi dengan mudah fokus (tentunya
dengan meningkatnya kompetensi dalam bekerja dan alat produktivitas)
untuk melangkah satu tapak demi satu tapak naik hingga dapat memetik
”SWEET FRUIT”.
Sangat
manusiawi sekali, keinginan mendapatkan hasil secara cepat namun
terkadang lupa resiko yang mungkin harus dihadapinya, yaitu runtuhnya
bangunan karena pondasi pijakan yang rapuh, ketidak konsistenan hasil. Dan
mereka berhenti cukup sampai disitu, malu mengatakan bahwa tahapan
berikutnya melibatkan emosi dan kepentingan sesaat, itu adalah kerumitan
yang tidak mudah, tetapi pasti bisa dimiliki.
Dalam
kehidupan sehari-hari dapat mudah kita kenali dengan fenomena bahwa
orang tua yang membawa anaknya ke dokter dengan harapan anaknya cepat
sembuh dari sakit tanpa mempedulikan takaran obat dan jenis obat yang
diberikan.
Pendek kata: ”Yang penting cepet sembuh, kasihan kalau terlalu lama sakitnya”.
Alhasil, para dokter yang pandai itu memberikan obat yang cukup manjur
dengan harga yang relatif mahal dan dengan takaran yang sedikit over
dosis. Anda pasti tahu apa efek jangka panjangnya...?
Semua ada takaran dan tahapannya, itu yang patut disadari sedari awal. Demikian juga kondisi bisnis organisasi kita.
Tidak
ada yang instan, yang ada adalah tahapan proses dan bila ingin lebih
cepat maka hilangkan pemborosan dalam rantai proses itu.
Pemahaman tentang ’Pohon dan Buah pada Manufacturing Excellence’:
1) Ground Fruit, Produktivitas tingkat 50 s/d 65% (atau dibawah 2.5 Sigma)
Buah
yang berserakan di tanah yaitu buah yang jatuh dari pohon. Rasanya bisa
manis, bisa pula sudah busuk ketika kita menemukannya. Kuncinya adalah
”LOGIKA dan STANDARD BASIC RULES’. Ketiga hal tadi tidak memerlukan ’ROKET SCIENCE’ atau alat cangih. Memang bukan ALAT CANGIH, namun jangan salah persepsi, tetapi Anda sedang berhadapan dengan SEKUMPULAN MANUSIA.
Karena disinilah pondasi kuat itu HARUS HADIR. Yaitu pondasi budaya kerja. Pondasi ’PENGERTIAN’ bekerja dengan benar.
Namun sering kali disepelekan bahkan menjadi CIBIRAN ketika berdikusi... ”Itu karena tidak disiplin... itu karena kelalaian... itu karena sembrono”. Pertanyaannya: ”Mengapa Engkau biarkan bila tahu demikian? Mengapa Engkau hanya menunjuk dengan satu jari, padahal ke-empat yang lainnya kepada dirimu sendiri?”
Karena Semua pekerja yang handal tentu memilikinya:
- Logika, Installasi
yang mengunakan besi medium berada pada lingkungan yang lembab maka
konsekuensinya adalah umur pendek karena karat. LOGIKA è Proses Oksidasi dan pembentukan karat
- Standard Basic Rules, Check
list sebelum melakukan pekerjaan. Teramat mudah menyepelekan hal kecil,
namun itu sebenarnya adalah hal yang fundamental dalam bekerja. Dan
berapa banyak produk yang telah terkena rejection akibat kecerobohan
ini? Lupa set temperatur yang benar... Lupa Angka satu koma dibelakang
titik... Lupa Order tambahan... Lupa pesan... Lupa Kencangkan Baut...
Lupa ini dan itu... atau sudah di Tik (check box) namun belum
dilaksanakan ... dst...
Dalam
pendekatan Best Practices, Ground Fruit dapat selalu dipanen dan terus
mendatangkan keuntungan bagi organisasi, bila pondasi yang kokoh telah
terbentu pada Working Place Arrangement yang benar (5S atau 6S), Pekerja
yang handal dalam mental dan perilaku kerja dan Kerja kelompok berdasar
prinsip KAIZEN.
Membangun budaya yang berkaitan dengan perubahan dan manusia, tentu tidaklah mudah.
a) Memulai dari Pucuk Pimpinan tentang perubahan mendasar tentang filosofi jangka panjang
b) Keterlibatan dari bawah ke atas
c) Mengunakan manajer madya sebagai agen perubahan
d) Membutuhkan
waktu pengembangan, pelatihan bagi karyawan sehingga keselarasan
pertumbuhan dengan tuntutan filosofi (budaya) perusahaan dan kepertingan
produktivitas kerja
e) Memahami tahapan perubahan dengan rasional dan emosional dan penyelarasan bagi ke-duannya.
2) Low Hanging Fruit, Produktivitas tingkat 60 s/d 75% (berkisar 3 Sigma)
Buah
yang mengantung rendah, memang mudah untuk dijangkau. Namun rasanya
belom tentu manis. Bahkan buah pada level ini sangat rentan dengan hama
(Dicuri, rusak karena fisik..dst).
Untuk merengkuh produktivitas level ini, kelompok kerja diwajibkan untuk memeliki kemampuan:
- Seven Tools problem Solving (Brainstorming, Cuase & effect Diagram, Pareto, Statistical Tools...)
- Single Exchange Minutes Dies untuk mengurangi change over
- Poka
Yoke untuk mendeteksi kesalahan sedari awal dan tidak membiarkan
kesalahan diteruskan ke proses berikutnya (Save falling & Mistake
Proof)
- Lean Value Stream Mapping, menghilangkan non-add value proses dan 8 aspek pemborosan ditempat kerja
- KANBAN dan Just In Time, Material Balance dan Process Balancing
- Visual Factory Management, Glass Wall Magement dan Visual Board Activities
- Kegairahan hidupnya KAIZEN team (GEMBA)
- ...
3) Bulk of Fruit, Produktivitas tingkat 75 s/d 98% (perjalanan 4 Sigma menuju 5.5 Sigma)
Pada bagian tengah pohon, berbuah sangat lebat.
Jumlahnya terbanyak, namun diperlukan alat untuk menjangkaunya agar buah yang dipanen tidak berjatuhan dan rusak.
Peningkatan
kinerja pada tahapan ini sering dikenal dengan nama SIX SIGMA, yaitu
sebuah alat yang mereduksi variasi dalam proses. Variasi artinya ketidak
stabilan, penyimpangan, pemborosan dan terjadinya kesalahan yang
menyebabkan kerugian dan biaya tambah.
Sesuatu yang belum ideal adalah peluang untuk improvement :
· Variasi & defect adalah bad COST
· Memahami pelanggan dan proses kerja akan menghubungkan ‘WHAT & HOW’ lebih harmoni
· Titik kritis mutu pelanggan adalah penting
· Rata-rata performa dalam lingkar kendali
· Setiap penyimpangan dan pemborosan harus dihilangkan
· Meningkatkan nilai tambah dan memperpendek waktu pengerjaan/pengadaan (Lead-time)
Contoh dalam penghilangan variasi dan defect pada On-time delivery:
4) Sweet Fruit, Produktivitas tingkat 95 s/d 99.997% (perjalanan 5 Sigma menuju 6 Sigma)
Sebuah
design yang baik akan mengakomodasi keinginan pelanggan, kemampuan
proses, deteksi dini pada potensi keluhan dan mampu dengan mudah
diperbaiki ataupun ditingkatkan kinerjanya. Seberapa
sering kita temui, bahwa yang merasa benar adalah design-nya dibanding
proses lain yang nantinya akan menjadi pelaksana.
Padahal, yang benar Design adalah muara dari Kapabilitas proses, Konsistensinya Mutu dan Produktivitas Proses Kerja.


PT. Mitra Prima Produktivitas
Jakarta :
Grand Wisata AK2 No.22, Spring Fiesta, Tambun Bekasi.
Malang : Jl.
Tariku IV No.34 Malang
Hub :
-
0822.4558.2777
-
0857.9163.2999
0 komentar:
Posting Komentar