BAGIAN KE-EMPAT: MENYELESAIKAN AKAR MASALAH SECARA TERUS-MENERUS UNTUK MENDORONG PEMBELAJARAN ORGANISASI
Prinsip 14: Menjadi Organisasi Pembelajar Melalui Refleksi Diri Tanpa Kompromi (Hansei) dan Peningkatan Berkesinambungan (Kaizen)

Kami
melihat kesalahan sebagai peluang untuk belajar. Bukannya menyalahkan
orang lain, organisasi mengambil tindakan korektif dan menyebarluaskan
pengetahuan mengenai pengalaman masing-masing secara luas. Belajar
merupakan proses berkesinambungan di seluruh perusahaan, ketika atasan
memotivasi dan melatih bawahannya; ketika para pendahulu melakukan hal
yang sama kepada penerusnya; dan ketika anggota tim di semua tingkatan
berbagi pengetahuan dengan yang lain.
(Dokumen Toyota Way 2001, TOYOTA Motor Corporation)
Setelah
Anda mendapatkan proses yang stabil, gunakan alat-alat peningkatan
berkesinambungan untuk mencari penyebab inefisiensi dan terapkan cara
penanggulangan dengan efektif
Rancangan
proses yang hampir tidak memerlukan persediaan. Hal ini akan membuat
waktu dan sumberdaya yang disia-siakan menjadi kelihatan jelas bagi
semua orang. Ketika pemborosan terlihat, biarkan karyawan mengunakan
proses peningkatan berkesinambungan (Kaizen) untuk menghilangkannya.
Lindungi
pengetahuan dasar organisasi dengan mengembangkan personil yang tetap,
promosi secara perlahan dan sistem suksesi yang sangat hati-hati.
Gunakan
HANSEI (reflesi diri) pada tahap-tahap penting dan setelah Anda
menyelesaikan suatu proyek untuk secara terbuka mengidentifikasikan
semua kelemahan dari proyek itu. Kembangkan jalan keluar untuk
menghindari kesalahan yang sama.
Belajar
dengan menstaandardisasikan praktik-praktik terbaik dan bukan menemukan
ulang hal yang sama dengan setiap proyek baru dan setiap manajer baru.
Difinisi tentang organisasi pembelajar:
...
Dimana orang terus menerus mengembangkan kapabilitas mereka untuk
menciptakan hasil yang benar-benar inginkan, di mana pola pikir baru
terus berkembang dipelihara, di mana aspirasi kolektif dibebaskan dan di
mana orang-orang terus belajar bagaimana cara belajar bersama.
(Peter Sange, The fifth Discipline, 1990)
Di
TOYOTA, mereka tiada hentinya mempelajari OPL (one point lesson); dari
yang kecil dan sedikit hingga menjadi ”LESSON LEARNED” yang luar biasa.
Mereka catat, mereka buku-kan; mereka sebar luaskan hingga seluruh level
terkait. Tiada henti dan penuh semangat perbaikan di tempat kerja.
Setiap
kegiatannya adalah untuk menghapuskan pemborosan di semua lini kerja
dengan satu tujuan MENURUNKAN BIAYA dan MENINGKATKAN DAYA SAING
perusahaan. Setiap individu di dalam oraganisasi tahu benar tentang itu,
dan telah menjadi ”THE WAY OF WORKING LIFE’.
Pekerja,
para supervisor, manajer dan hingga level eksekutif benar menjalankan
organisasi seperti tidak ubahnya PEMILIK modal. Mereka merasa tidak
dapat hidup tanpa kepuasan pelanggan, hasil kerja yang bermutu, berdaya
saing dan hidup dalam pelayanan.
Dalam
setiap permasalahan yang muncul, selalu bersama-sama dengan fikiran
positif untuk dapat menyelesaikan masalah dengan mengungkapkan kejadian
yang sebenarnya, akar masalah yang sebenarnya tanpa bertujuan
menyalahkan atau menghakimi. Mereka sadar, bila AKAR PENYEBAB dimatikan,
maka efektifitas kerja dapat ditingkatkan, suatu kesalahan hanya untuk
sekali saja, dan tidak berulang.
Melakukan
diskusi, brainstorming, mengamati proses, mendeteksi penyimpangan,
mencari tahu sumber penyebab permasalahan, melibatkan lintas fungsi
department; seakan-akan semua merasa bersalah dan wajib memperbaikinya.
Sehingga esok pagi, segala sesuatunya dapat diketahui jawabannya,
distandardisasikan proses/kerja, disebar luaskan dan menjadi bagian
pencegahan masalah yang sama muncul kembali.
Kesadaran
pekerja benar-benar diatas rata-rata; Bekerja sebagai IBADAH; Bekerja
dengan LOYALITAS dan INTEGRITAS Tinggi. Untuk Perusahaan dan masa depan
Pekerjanya.
Inilah pendekatan TOYOTA dalam PROBLEM SOLVING approach mencari AKAR PENYEBAB:
Dibanyak
Perusahaan, kasus FIRE-FIGHTING... perbaikan jangka pendek yang hanya
berorientasi pada hasil semata tanpa membuka MATA pada proses JANGKA
PANJANG, bahkan tercermin sangat jelas dari PARA EKSEKUTIF hingga MENTAL
Pekerja Blue Collar... ”Yang penting hasilnya, Angka dan semuanya
BERES!!!” ini sangat berbahaya bagi masa depan Perusahaan. Dan ini harus dihentikan!!!
Jadikan perusahaan Anda tempat bekerja, sebagai tempat kerja yang penuh dengan semangat pembelajaran. Ubah-lah!!!
Tanpa HANSEI, tidak ada KAIZEN.
Bila
Anda melakukan kesalahan, pertama Anda harus merasa sedih dan menyesal.
Kemudian membuat rencana ke depan untuk memecahkan permasalahan bagi
perbaikan dan penanggulangan, agar masalah yang sama tidak terjadi lagi.
HANSEI adalah SIKAP dan POLA PIKIR.
HANSEI
adalah kejujuran tentang kelemahan diri Anda sendiri. Jika Anda
mengakui kelemahan dan kesalahan, Anda akan bersikap jujur, pengakuan
ini adalah KEKUATAN tingkat TINGGI.
Bagimana Anda berbuat dan beraksi, berubah memperbaiki kesalahan dan keadaan tadi; itulah akar dari KAIZEN. HANSEI adalah tempat penetasan perubahan bagi seluruh proses itu.
Ada 3 cara pengukuran keberhasilan di TOYOTA:
Ukuran kerja GLOBAL. Bagaimana keadaan Perusahaan? Ukuran-nya adalah Financial, Kualitas dan Keselamatan Kerja.
Ukuran
kerja OPERASIONAL. Bagaimana keadaan Pabrik atau Unit
Kerja/department/seksi kerja? Ukurannya adalah Kepuasan pelanggan,
ketepatan penyerahan produk, produktivitas kerja dan keadaan karyawannya
(working environment).
Ukuran
kerja PENINGKATAN yang AGRESIF. Bagaimana keadaan Unit Bisnis atau
Kelompok Kerja? Ukurannya adalah Efektivitas setiap tindakan perbaikan
dan pencegahan, keberhasilan penerapan perbaikan tempat kerja yang
berkesinambungan.
Berikut
adalah pendekatan Penjabaran Kebijakan (Policy Deployment = HOSHIN
KANRI), menjabarkan dari hal yang strategic ke dalam pelaksanaan harian:
Demikian persembahan tulisan tentang TOYOTA Ways (prinsip ke #1 s/d 14).
PT. Mitra Prima Produktivitas
Jakarta :
Grand Wisata AK2 No.22, Spring Fiesta, Tambun Bekasi.
Malang : Jl.
Tariku IV No.34 Malang
Hub :
-
0822.4558.2777
-
0857.9163.2999
0 komentar:
Posting Komentar