Minggu, 28 Agustus 2016
TPM #41: Pillar ke 6, Quality X-Matrix dan Quality Machine-Matrix pada implementasi Zero Defect | Training Early Equipment Management, Training Workshop Pelatihan Training Need & Review Analysis | Jasa Konsultan Engineering Manufacturing
By mesin at 03.06
6, Quality X-Matrix dan Quality Machine-Matrix pada implementasi Zero Defect, Training Early Equipment Management, Training Workshop Pelatihan Training Need & Review Analysis
No comments
TPM #41: PILAR ke 6, Quality Maintenance System ‘Hinshitsu Hozen’
Bagian 5: Quality X-Matrix dan Quality Machine-Matrix pada implementasi Zero Defect
Prinsip
dari Quality Maintenance System adalah mencapai implementasi TPM dengan
benar (~ sempurna) dengan hasil (objectives): ZERO ABCDE (Accident,
Breakdown, Chronic, Defect & Environment) atau lebih disederhanakan
menjadi Zero Defect.
Defect Mode atau
model kerusakan maksudnya adalah mengobservasi, mencatat dan
menjelaskan bahwa permasalahan mutu diklasifikasikan dengan benar, baik
dan dikumpulkan (didapat) dengan cara yang akurat (reliable), sehingga
pada saat dituangkan dalam QA matrix grafik Pareto yang didapat akan
dengan mudah menganalisa dan menentukan tindakan selanjutnya.
Quality Assurance (QA) Matrix akan
mengidentifkasikan permasalahan kerusakan produk yang sebenarnya dari
input Team Continues Improvement. Input yang dimaksud adalah Prioritas
tahapan proses yang berbeda-beda dan beberapa indikasi pada ditemukannya
akar permasalahan.
Cara yang dipergunakan dalam Improvement Methods adalah
menganalisa tahapan proses bermasalah hingga ditemukannya akar masalah,
dengan menggunakan diagram alir sederhana hingga yang komplek untuk
menganalisa tindakan preventive maintenance atau proses kerja. Keluaran
dari Improvement ini dijabarkan dengan mengunakan analisa 5M (Machine,
Material, Method, Man dan Measure).
1. Mesin akan dijabarkan lebih lanjut dalam QX matrix
yang berisi Quality Points dengan rincian Quality terhadap komponen dan
Quality pada Parameter proses kerja dan operasi mesin. Pada factor ini
fisik spare-parts, bagian mesin, sub-assembli, poros, driver, motor,
..dll diperiksa untuk mendapatkan ketangguhan dan kehandalan mesin.
2. Materials
yang dimaksud adalah sifat dan specifikasi property dan fungsi material
sebagai bahan baku dan bahan pendukung produk. Bila material sebagai
input ini dikendalikan dengan mutu, maka variasi yang ada adalah variasi
dalam kendali yang akan menghasilkan produk yang direncanakan.
3. Metoda
atau cara proses kerja dipandu dengan quality working instruction yang
mudah dimengerti, dikerjakan dan dipatuhi, sebab tahapan operasi kerja
adalah kunci penting mengasilkan produk yang bermutu dan konsisten.
4. Manusia
pekerja dibekali pengetahuan yang baik dan benar, kemampuannya terus
diupayakan meningkat sehingga pemecahan masalah dan kegiatan improvement
menjadi dinamis dan cepat tanggap. Keterlambatan penanganan berarti
pemborosan atas waktu.
5. Sistem pengukuran (Measurement system)
didasarkan pada property proses dan output yang diharapkan hadir
ditanggan pelanggan. Inilah yang nantinya digunakan sebagai jaminan atas
mutu produk.
Quality Management Matrix
adalah jaminan bahwa proses kerja dikendalikan dan dirawat secara benar
dengan mengunakan mekanisme Check List [What + Who + When + How +
Where].
1. Daftar nilai toleransi yang membatasi penyimpangan mutu sehingga defect (model defect) dapat diukur dengan pasti.
2. Tentukan petugas yang melakukan pengecekan dengan metoda: What + Who + When + How + Where.
3. Hubungkan kombinasi tindakan, check list dan kerusakan.
4. Buatlah check list yang benar-benar dapat menjamin bahwa penyimpangan dapat diketahui sedari awal.
Kondisi dari Quality Management System
adalah menjamin bahwa efisiensi kerja dan efektivitas pelaksanaan
pengendalian mutu dilaksanakan dengan benar dan disiplin. Hal ini
didasarkan pada pelaporan bulanan atau triwulanan yang tindaklanjuti
dengan Laporan atas fungsi mutu dan hasil dari tindakan pencegahan dan
koreksi terhadap pemasalah yang ada pada periode tersebut, sehingga
diwaktu mendatang telah siap untuk merespon kondisi penyimpangan dengan
cepat dan pasti berhasil (solve).
Tindakan Improvement dari Quality Management system
di-targetkan bahwa fungsi quality bergeser dari Quality Control menjadi
Quality Assurance atau menjamin mutu kerja secara mandiri, sehingga
didapat efisiensi dari segi tenaga dan waktu kerja yang lebih cepat.
Improvement yang dimaksud adalah bahwa pengendalian menjadi sempurna
karena ditanggani oleh pekerja yang ahli dibidang operasinya.
0 komentar:
Posting Komentar